Indramayu , – Mimpi warga Indramayu memiliki kawasan olahraga megah sekelas stadion internasional harus kandas di tengah jalan. Proyek ambisius revitalisasi Sport Center senilai Rp200 miliar resmi dicoret oleh Gubernur Jawa Barat dalam evaluasi APBD 2026.
Alih-alih menjadi ikon baru, proyek ini justru dicap sebagai pemborosan di tengah carut-marutnya infrastruktur dasar.
Butuh Jalan, Bukan Gengsi
Keputusan pahit ini terungkap setelah Pemerintah Provinsi Jawa Barat menilai anggaran jumbo tersebut tidak mendesak.
Anggota Komisi III DPRD Indramayu, Haji Ruswa, membongkar bahwa Gubernur memberikan "rapor merah" pada item pembangunan tersebut karena dianggap mengabaikan urusan perut rakyat.
"Bahasa kasarnya dicoret. Hasil evaluasi mengharuskan anggaran diprioritaskan untuk belanja wajib pelayanan dasar. Otomatis revitalisasi itu batal total," tegas Ruswa saat ditemui di Gedung DPTD PKS, Senin Pahing (5/1/2026).
Kini, dana ratusan miliar yang semula untuk mempercantik gedung olahraga tersebut dipaksa dialihkan guna menambal jalan rusak dan pemasangan Penerangan Jalan Umum (PJU) demi menekan angka kriminalitas begal yang kian meresahkan warga Indramayu.
Pedagang Menuntut: "Jangan Hanya Beri Harapan Palsu!"
Gagalnya mega proyek ini memicu gelombang kemarahan dari para pelaku usaha kecil.
Ketua Pedagang Sport Center, Nurbaeti, meluapkan kekecewaannya pada Rabu (7/1/2026). Ia merasa pemerintah hanya memberikan janji manis tanpa realisasi, padahal pendataan pedagang sudah dilakukan berkali-kali.
"Kami sudah lelah didata. Kalau memang dana 200 miliar itu hilang, jangan biarkan Sport Center kumuh! Kami menuntut keadilan," ujar Nurbaeti berapi-api.
4 Tuntutan Harga Mati Pedagang
Merespons kegagalan ini, para pedagang mengajukan empat tuntutan keras kepada Pemerintah Kabupaten Indramayu agar Sport Center tetap layak digunakan meskipun tanpa anggaran mewah:
Gusur Warung Remang-Remang:
Bersihkan kawasan olahraga dari praktik maksiat yang merusak citra Indramayu.
Relokasi Warung Pelangi: Tata ulang lapak pedagang ke pinggir agar tidak memakan area lintasan olahraga.
Standar Kebersihan Ikonik: Kembalikan fungsi Sport Center sebagai ikon daerah yang bersih dan rapi.
Fasilitas Dasar Manusiawi:
Pembangunan Mushola dan tambahan Toilet yang layak untuk mendukung Gerakan Hidup Sehat.
"Mati Suri" di Tengah Kegelapan
Senada dengan Nurbaeti, Kang Supardi selaku pembina pedagang, mendesak pemkab tidak "lepas tangan" setelah proyek dicoret. Ia menyoroti fasilitas umum di Sport Center yang saat ini dalam kondisi mati suri.
"Kalau dana 200 miliar itu sudah raib, minimal perbaiki lampu yang mati, toilet yang mampet, dan buatkan tempat ibadah secara mandiri.
Jangan biarkan tempat ini gelap dan jadi sarang kejahatan," tegasnya.
Kini bola panas ada di tangan Pemerintah Kabupaten Indramayu. Akankah mereka mampu menata Sport Center dengan anggaran seadanya, atau justru membiarkan ikon kebanggaan warga ini semakin tenggelam dalam kekumuhan? (Nurbaeti)





