Bangka Tengah — Aktivitas lalu lintas puluhan mobil dump truck bermuatan tin slag atau terak timah di Jalan Pangkol, Desa Kayu Besi, Kecamatan Namang, Kabupaten Bangka Tengah, Rabu (11/2/2026) dan Kamis (12/2/2026), memantik perhatian warga.
Laporan masyarakat yang masuk ke tim investigasi awak media menyebutkan iring-iringan kendaraan berat tersebut
berlangsung sejak pagi hingga sore hari.
Menindaklanjuti laporan itu, tim investigasi turun langsung ke lokasi dan menemukan fakta di lapangan bahwa dump truck tersebut berasal dari area smelter milik PT Kopan Jaya Mandiri.
Saat tiba di lokasi smelter, tim mendapati antrean panjang puluhan dump truck yang tengah melakukan pengisian muatan tin slag. Aktivitas berlangsung tertib dengan pengawasan ketat.
Ketika dikonfirmasi, pihak keamanan PT Kopan Jaya Mandiri bernama Komar menyampaikan bahwa material tersebut merupakan milik PT Timah.
"Tin slag ini punya PT Timah, Bang. Orang-orang PT Timah banyak di sini, lengkap dengan security dari PT Timah," ujarnya.
Dari pengamatan di lapangan, seluruh dump truck yang keluar dari gerbang PT Kopan Jaya Mandiri tampak dikawal ketat oleh petugas keamanan yang disebut berasal dari PT Timah.
Konvoi Menuju ULB Batu Rusa
Tim investigasi kemudian mengikuti iring-iringan dump truck tersebut. Konvoi bergerak menuju arah Kantor Cabang ULB (Unit Laut Bangka) di Batu Rusa.
Setibanya di lokasi, material tin slag diketahui disimpan di bagian belakang kantor yang dulunya merupakan area Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) milik PT Timah.
Saat dikonfirmasi terkait aktivitas bongkar muat tersebut, salah satu petugas keamanan di lokasi menyatakan:
"Silakan tanya ke kantor, Bang, bagian humas. Kami hanya menjalankan perintah."
Jawaban seragam dari pihak keamanan di dua lokasi berbeda menambah tanda tanya publik atas aktivitas pemindahan material tersebut.
Jejak Lama Tin Slag: Sejak 2021 Hingga 2026
Penelusuran tim investigasi mengungkap bahwa ini bukan kali pertama tin slag tersebut berpindah lokasi.
Pada Jumat, 12 November 2021, tercatat sebanyak 2.000 ton tin slag asal Tanjung Pandan, Belitung, tiba di Pangkalpinang menggunakan jasa pelayaran PT Mose Indonesia Grup. Material tersebut sandar di jetty samping Depot PT Pertamina Pangkal Balam.
Lebih jauh lagi, berdasarkan data yang dihimpun, tin slag tersebut berasal dari hasil kerja sama peleburan mitra PT Timah di Kelapa Kampit, Belitung Timur, periode 2019–2020. Material kemudian dikirim ke Air Mesu, Pangkalan Baru, Bangka Tengah, dengan total berat 1.737 ton, dengan rincian:
Terak I Tahun 2019: 325.727 kg
Terak I Tahun 2020: 50.416 kg
Terak II: 1.361.553 kg
Tin slag ini diketahui masih memiliki nilai ekonomis dengan kadar timah sekitar 22 persen, sehingga berpotensi bernilai tinggi jika diproses kembali.
Material tersebut sempat masuk ke perusahaan smelter PT Mitra Kopan Metalindo. Namun berdasarkan data tim investigasi, pada 13 November 2023, ribuan ton tin slag kembali berpindah ke gudang PT Kopan Jaya Mandiri dengan pengawalan ketat dari pihak PT Timah.
Artinya, hingga 2026, material yang sama tercatat telah tiga kali berpindah tempat.
Publik Bertanya: Mengapa Berkali-kali Dipindahkan?
Perpindahan berulang ribuan ton material bernilai ekonomis tinggi ini memunculkan pertanyaan publik:
Mengapa tin slag tersebut harus berkali-kali dipindahkan?
Apa dasar administrasi dan status hukumnya?
Apakah perpindahan ini bagian dari proses bisnis normal atau ada mekanisme lain yang belum terungkap?
Tim investigasi telah mencoba melakukan konfirmasi kepada Humas PT Timah, Rizali. Pesan konfirmasi terpantau telah terbaca (centang biru), namun hingga berita ini diturunkan belum ada jawaban resmi yang diberikan.
Desakan Transparansi dan Penyelidikan
Melihat rangkaian fakta di lapangan, tim investigasi awak media meminta Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bangka Belitung untuk melakukan penyelidikan menyeluruh atas temuan ini guna memastikan tidak ada potensi kerugian negara.
Sebagai perusahaan yang mengelola sumber daya strategis negara, PT Timah diharapkan dapat menyampaikan keterbukaan informasi kepada publik. Transparansi dinilai penting untuk mencegah berkembangnya opini liar dan menjaga kepercayaan masyarakat Bangka Belitung.
Hingga kini, aktivitas pemindahan tin slag tersebut masih menyisakan tanda tanya besar. Publik menunggu penjelasan resmi: apakah ini sekadar relokasi logistik, atau ada cerita lain di balik pergerakan ribuan ton terak timah bernilai ekonomis tersebut?
(HR/TIM)





