Buserpolkrim.com
Miris wanita berstatus janda,tuna wisma asal blok penganjur desa Kapetakan kabupaten Cirebon yang memiliki 4 anak dan masih duduk dibangku sekolah dasar mengaku harus bayar Rp 20.000 saat pengambilan Bansos kinerja pemerintah desa patut dipertanyakan
kalau tidak ingin dikatakan tutup mata atau ada dugaan kongkalingkong mestinya camat dan juga Kuwu desa Kapetakan segera bertindak jangan biarkan pungutan liar terus terjadi saat pembagian bansos , dan ini harus menjadi perhatian semua pihak baik pemerintah kabupaten Cirebon maupun Aparatur Penegak Hukum ( APH ) sebab dari awal yang kecil itulah yang akhirnya menjadi besar jadi tidak ada alasan untuk tidak segera turun tangan sebab dengan adanya penerapan desil masyarakat sudah terlanjur kecewa terhadap kebijakan pemerintah .
Perubahan data desil terjadi karena banyak warga miskin dan rentan yang tiba tiba tercatat berada didesil tinggi sehingga secara otomatis kehilangan hak sebagai penerima bantuan sosial ( Bansos ), sebab desil itu sangat menentukan dapat dan tidaknya seseorang selaku penerima bansos .
disinilah kemudian kepala wilayah jawa barat (KAPERWIL JABAR) menulis tergelitik untuk menulis apa makna atau arti kata dari desil yang kini sedang ramai diperbincangkan khalayak mungkin oleh sebagian masyarakat awam kata desil tentu masih sangat asing,nyatanya tak sedikit yang bertanya tanya apa itu desil, bahkan untuk sekedar mengucapkan kata desil masyarakat tekadang keliru dari kata desil menjadi disel .
Secara etimologi Kata Desil berasal dari bahasa latin yaitu Decem yang , jika diartikan kedalam bahasa Indonesia sering digunakan untuk pembagian suatu kelompok lebih tepatnya data populasi secara urut dari mulai 1 hingga 10 dan desil tadi merupakan pengelompokan tingkat kesejahteraan keluarga yang biasanya digunakan pemerintah Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional atau yang biasa kita sebut DTSEN .
Sistim inilah yang dijadikan acuan untuk membagi keluarga dalam 10 kelompok berdasarkan kondisi sosial dan juga ekonomi mulai dari kelompok dengan tingkat kesejahteraan paling rendah hingga paling tinggi, disinilah kemudian baik dinas sosial maupun petugas BPS harus benar benar jeli dan tidak ngarang dalam melakukan pendataan sebab statistik yang dicatat berkaitan dengan desil tentu akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan sosial .
Sebab dari pantauan dilapangan ternyata tak sedikit masyarakat dengan kategori desil 1 sampai desil 4 tapi tidak pernah mendapat bantuan sosial ( Bansos ) justru kebalikannya terpantau oleh awak media saat pengambilan Bansos beras 30 kg salah satu KPM perempuan dengan menggunakan aksesoris emas baik ditangan maupun dileher datang ke kantor balai desa dengan menggunakan sepeda motor bermerek dan berharga fantastis , kalau dilihat dari gaya serta penampilan kecil kemungkinan KPM tadi dengan kategori desil 1 sampai 4 ini yang perlu disiasati baik oleh perangkat desa , pendamping desa Dinas sosial ( Kemensos ) dan juga BPS harus saling mendukung dan bersinergi .
Dari penelusuran awak media diperbatasan Cirebon Indramayu tepatnya didesa Kapetakan kecamatan Kapetakan kabupaten Cirebon ditemukan seorang janda tuna wisma beranak empat yang masih kecil kecil tidak pernah mendapatkan bantuan apapun baik PIP maupun PKH padahal ketiga anaknya masih sangat membutuhkan biaya terutama biaya pendidikan sekolah dasar dan Taman Kanak Kanak nyatanya hampir 20 tahun tidak pernah menerima bantuan sosial , baru pada tahun 2026 dirinya mengaku mendapat bansos beras sebanyak 30 Kg walaupun harus bayar kepada oknum RT sebesar Rp 20.000 pada saat pembagian karcis pengambilan Bansos, diakui oleh Si (45 th) namun saat pengambilan beras bansos harus bayar namun dirinya merasa senang dan bersyukur katanya ini sebuah berkah dengan mendapat bantuan beras paling tidak dapat meringankan beban hidup dirinya yang semakin sarat .
Penulis moh Kozim kepala wilayah jawa barat medi





