All Posts | Media Buser Polkrim

Berita Terkini

Gandeng Linmas, Piket Koramil 03/Serengan Laksanakan Patroli Malam, Wujudkan Situasi Aman Dan Kondusif

Surakarta - Piket Koramil 03/Serengan Kodim 0735/Surakarta Serka Rochani bersama dengan Linmas melaksanakan Patroli malam hari di wilay...

Postingan Populer

Selasa, 04 November 2025

Jelang Penutupan TMMD Sengkuyung Tahap IV, Koramil 04/Jebres Bersama Masyarakat Genjot Pekerjaan Hingga Detik Terakhir

Surakarta - Menjelang penutupan program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Sengkuyung Tahap IV Tahun 2025, anggota Satgas TMMD Kodim 0735/Surakarta Koramil 04/Jebres terus bekerja keras menyelesaikan berbagai sasaran fisik. Mulai dari tahap akhir perapihan dan pengecatan serta pembersihan di Jl. Arifin Kelurahan Kepatihan Kulon Kecamatan Jebres,Selasa ( 04/11/2025 )

Danramil 04/Jebres Kapten Cba Kurdi saat memimpin apel TMMD, menegaskan bahwa seluruh pekerjaan harus diselesaikan sebelum acara penutupan resmi, rencana yang akan dipimpin oleh Dandim 0735/Surakarta beserta Walikota Surakarta.

"Kita pastikan semua sasaran rampung sebelum upacara penutupan. Pengerjaan semua sudah mencapai 95 persen, pemasangan Uditch saluran air juga sudah tuntas," tegasnya.

"Sementara itu, sasaran non-fisik seperti penyuluhan dan pemberdayaan masyarakat juga telah terlaksana sepenuhnya. Kami optimistis bahwa sebelum upacara penutupan, semua target akan benar-benar terselesaikan, sehingga manfaatnya dapat langsung dirasakan masyarakat."imbuhnya.

"Kita bekerja keras agar hasil TMMD ini memberikan manfaat nyata bagi warga Kota Surakarta. Saya harap semua sasaran rampung sebelum penutupan," pungkas Danramil.

Penulis : Arda 72

Komsos Tiga Pilar, Cara Jitu Babinsa Jebres Tingkatkan Kerja Sama Dukung Pelaksanaan Tugas

Surakarta - Babinsa Kelurahan Jebres Koramil 04/Jebres Kodim 0735/Surakarta Serda Winarno melaksanakan Komunikasi Sosial (Komsos) bersama Tiga Pilar, Babinsa, Bhabinkamtibmas Kelurahan Jebres Aiptu Yeni Prasetyo, S.H, dan Lurah Jebres Ibu Renyta Ina Wijaya, SE., M.Si., bertempat di  Kantor Linmas Kelurahan Jebres, Kecamatan Jebres, Selasa (04/11/2025).

Dikatakan Serda Winarno sebagai relasi di wilayah, dirinya melaksanakan silaturahmi dan menjaga komunikasi yang baik guna terjaganya sinergitas disetiap kegiatan untuk menciptakan suasana nyaman, tertib serta aman kondusif di wilayah yang menjadi tanggung jawab Babinsa sebagai pembina di Kelurahan.

"Dengan selalu berkordinasi disetiap kegiatan atau masalah akan memudahkan dan meringankan suatu pekerjaan, yang mana selalu mengutamakan musyawarah kebersamaan  demi kemaslahatan bersama."ujarnya.

"Dalam Komsos bersama jajaran tiga pilar Kelurahan membahas tentang perkembangan situasi dan kondisi di wilayah, salah satunya mengedepankan musyawarah dalam setiap permasalahan yang muncul di wilayah."imbuhnya.

Pada kesempatan tersebut Serda Winarno selaku Babinsa juga memberikan saran agar permasalahan yang muncul di wilayah diselesaikan secara kekeluargaan, dengan cara musyawarah mupakat.

Penulis : Arda 72

Wujud Rasa Kekeluargaan Antar Sesama Rekan Kerja, Anggota Koramil 05/Pasar Kliwon Takziah Mertua Anggota Yang Meninggal Dunia

Surakarta -Setelah menerima kabar bahwa orang tua (mertua) dari Serka Rofik Priyono anggota Babinsa Koramil 05/Pasar Kliwon Kodim 0735/Surakata telah meninggal dunia, Kapten Kav Supriyanto selaku Danramil 05/Pasarkliwon beserta anggota melayat ke rumah duka di kp.Gentan Desa Dukuh Kecamatan Mojolaban, Selasa  (04/11/2025).

Kedatangan Danramil bersama anggota Koramil 05/Pasar Kliwon diterima langsung oleh pihak keluarga dengan suasana penuh duka, Danramil mengatakan, bahwa kehadiran para Anggota kerumah duka sebagai bentuk empati dan sebagai wujud rasa kekeluargaan antar sesama rekan kerja, yang bertujuan untuk memberikan semangat kepada keluarga yang ditinggalkan.

"Kegiatan semacam ini sudah biasa dilakukan oleh Anggota Koramil 05/Pasar Kliwon, karena sebagai seorang aparat teritorial harus peduli, selain sesama rekan kerja juga peduli terhadap warga binaan apalagi yang sedang tertimpa musibah semacam ini,"tutur Danramil.

Danramil juga menyampaikan ucapan turut berdukacita cita atas meninggalnya Almarhum.

"Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kesabaran untuk menerima cobaan ini, kedatangan kami ini sebagai wujud ungkapan belasungkawa dan simpati kepada anggotanya beserta pihak keluarga yang mengalami kedukaan, sekaligus memberi motivasi dan dukungan kepada keluarga agar tetap sabar dan tabah,"tutupnya.

Penulis : Arda 72

Dandim Wonogiri : Waspadai Bencana Yang Terjadi Sewaktu Waktu

Wonogiri - Antisipasi Bencana Hidrometeorologi, Tiga Pilar Kabupaten Wonogiri melaksanakan Apel Kesiapsiagaan Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi yang digelar di halaman Mapolres Wonogiri, Selasa (04/11/2025).

Komandan Kodim (Dandim) 0728/Wonogiri Letkol Inf Edi Ristriyono saat ditemui, menyampaikan apresiasi atas digelarnya acara ini. Pihaknya mendukung Apel ini sebagai upaya untuk memperkuat koordinasi dalam penanggulangan bencana, meningkatkan pemahaman masyarakat tentang kebencanaan.

"Kita perlu mewaspadai bencana yang dapat terjadi sewaktu-waktu, karenanya petugas gabungan baik dari TNI-Polri dan pemerintah daerah harus bersinergi dan siap siaga terkait pola penanganan serta memastikan kesiapan sarana dan prasarana," kata Dandim.

Menurut Dandim, apel kesiapsiagaan antisipasi bencana hidrometeorologi ini juga untuk konsolidasi dan koordinasi, serta memeriksa langsung segala kesiapan yang dilakukan TNI, Polri, BPBD, Basarnas, Damkar, dan pemangku kepentingan lainnya. tegasnya.

Penulis : Arda 72

*Kapolda Jabar Raih Gelar Doktor Lewat Disertasi "Cerita dari Mesuji", Paparkan Kondisi Polisi di Tengah Konflik*


Kapolda Jabar, Irjen Rudi Setiawan menjalani sidang disertasi berjudul 'Cerita dari Mesuji: Studi Fenomeno logi tentang Menjadi Polisi di Daerah Konflik' di Universitas Airlangga, Senin (3/11/2025). Irjen Rudi Setiawan dengan penuh percaya diri di hadapan para penguji yang hadir demi menyabet gelar doktor memaparkan tentang menjadi polisi yang profesional, bertanggung jawab, dan berintegritas di wilayah yang penuh masalah, kekerasan masyarakatnya meluas dan melembaga, hingga keberadaan polisi tak pernah diterima sepenuhnya.

Menurut Irjen Rudi, Mesuji merupakan nama yang bagi sebagian orang mungkin sekedar sebuah lokasi geografis di perbatasan Lampung dan Sumatera Selatan. Tetapi, bagi sebagian lain, Mesuji adalah ruang eksistensial di mana konflik agraria, trauma sejarah, dan pergumulan identitas sosial bersinggungan dalam keseharian dengan polisi dan warga.

Dia pun mencoba mengajak menelusuri fenomena menjadi polisi di sana lewat kacamata fenomenologi Edmund Husserl, yang mana bukan sekedar untuk memahami polisi sebagai profesi, melainkan sebagai kesadaran yang mengalami dunia hidupnya dalam situasi sosial yang kompleks dan penuh paradoks lebenswelt.

"Lebenswelt ini konsep dalam bahasa Jerman diterjemahkan sebagai lifeworld dalam bahasa Inggris atau dunia kehidupan dalam bahasa Indonesia yang merujuk pada dunia pengalaman hidup sehari-hari yang diterima begitu saja, apa adanya, oleh individu," ujarnya

Dia juga menambahkan, fenomenologi Edmund Husserl berangkat dari upaya kembali ke hal-hal itu sendiri alias back to the things themselves. Artinya, memahami pengalaman hakiki atau otentik sebagaimana dialami oleh subjek, tanpa prasangka, tanpa reduksi sosiologis atau psikologis yang terburu-buru.

"Dalam konteks Mesuji, dunia hidup polisi bukan semata dunia institusi, peraturan, atau hirarki. Mesuji adalah dunia konkret tempat mereka, para polisi, bangun pagi dengan kesadaran bahwa di luar pagar rumahnya, ada masyarakat yang mungkin melihatnya bukan sebagai pelindung, tapi sebagai bagian dari kekuasaan yang jauh, angkuh, berjarak, dan gagal memahami warga asli Mesuji sebagai entitas yang memiliki identitas partikular dengan kehormatan diri dan martabat," ujarnya

Irjen Rudi juga dalam disertasinya menunjukkan polisi di Mesuji hidup di antara dua tarikan besar, yakni sebagai penegak hukum, simbol negara, dan pelaksana aturan di satu sisi dan di sisi lain sebagai individu yang bergulat dengan rasa sepi, terancam, ketakutan, keterbatasan sarana, tak terdukung, dan dilema moral dalam menghadapi masyarakat yang sering lebih percaya pada kekerasan daripada hukum.

"Kesadaran Polisi di Mesuji, mengarah pada masyarakat yang terbelah secara sosial sering atas dasar etnis dan klas sosial, pada klaim atas lahan yang diperebutkan oleh banyak pihak, pada para preman dan jaringan pengedar narkoba dan senjata api rakitan, para korporasi besar yang menguasai lahan, dan di antara yang lain pada sarana dan dukungan yang serba terbatas, serta sesekali pada kehilangan rasa aman di tengah ketegangan yang tak kunjung usai," katanya.
Lebih lanjut, Irjen Rudi menyampaikan dalam perspektif fenomenologi, identitas bukan atribut tetap, melainkan konstruksi kesadaran yang terus berubah melalui interaksi dan refleksi diri.

"Tak ada yang tetap dalam identitas personal, identitas profesional, dan identitas sosial polisi yang menjalani hidup di Mesuji. Identitas personal polisi Mesuji tumbuh dari pengalaman keseharian yang sering penuh ambiguitas: di antara panggilan moral dan tekanan struktural; di antara rasa ingin melayani dan rasa ditolak, tak dipercaya, dan tak berdaya. 

Dalam diam di Mesuji yang terpencil itu, identitas personal polisi bukanlah seragam atau pangkat, melainkan rasa tanggung jawab yang mengakar pada pengalaman batin: 'saya ada karena tugas, tetapi tugas itu juga menguji siapa saya sebenarnya'," katanya.

Sementara itu, identitas profesionalnya Irjen Rudi menyebut dibentuk oleh norma institusional: aturan, pelatihan, dan etika kepolisian. Namun di Mesuji, norma itu sering harus diterjemahkan secara kontekstual. 
Sedangkan identitas sosial polisi di Mesuji, terbangun dalam relasi yang penuh ketegangan dengan masyarakat. Polisi di Mesuji bukan hanya representasi negara, tetapi juga figur ambivalen kadang dilihat sebagai pelindung, kadang sebagai penjaga kepentingan entitas luar, entitas asing.

"Ketika seorang polisi berhadapan dengan seorang warga asli Mesuji Wong Tobo yang menggantungkan hidupnya pada sebidang tanah yang dianggap “milik negara”, dia sesungguhnya berhadapan dengan cermin dirinya sendiri.   
Dalam momen itu, dunia hidupnya menampakkan wajah paling jujur dari realitas sosial di Indonesia: ketimpangan, alienasi, dan pencarian rumit tentang legitimasi moral," katanya.

(Paul)