DPRD Indramayu Mediasi Konflik Tebu dan Sapi di Situ Bolang, Peternakan Terintegrasi Jadi Jalan Tengah

Berita Terkini

Kapolda Babel untuk 53 Bintara Remaja: 'Kalian Kertas Putih, Jangan Coreng dengan Kesalahan'"

Bangka Belitung, Kapolda Kepulauan Bangka Belitung, Irjen Pol. Viktor T. Sihombing, berikan arahan khusus kepada 53 Bintara Remaja angkatan ...

Postingan Populer

Rabu, 18 Februari 2026

DPRD Indramayu Mediasi Konflik Tebu dan Sapi di Situ Bolang, Peternakan Terintegrasi Jadi Jalan Tengah

Indramayu - Upaya percepatan pengelolaan peternakan di Situ Bolang, Kecamatan Cikedung, Kabupaten Indramayu, kini diarahkan menuju konsep modernisasi peternakan yang terintegrasi. Langkah ini muncul pascamediasi antara kelompok peternak sapi dan petani tebu yang sebelumnya sempat mengalami ketegangan akibat persoalan lahan penggembalaan.

Mediasi yang digelar Rabu (18/2/2026) tersebut mempertemukan kedua belah pihak guna mencari solusi jangka panjang agar konflik serupa tidak kembali terulang. Ribuan ternak sapi yang digembalakan di kawasan Situ Bolang diketahui kerap memasuki area perkebunan tebu dan merusak tanaman yang sedang tumbuh, sehingga memicu keberatan dari para petani.

Ketua Komisi II DPRD Indramayu, Imron Rosadi, menegaskan bahwa modernisasi peternakan harus dimulai dari penataan tata ruang yang jelas antara zona budidaya tanaman dan area penggembalaan. Menurutnya, pemisahan wilayah secara tegas menjadi pondasi utama dalam membangun sistem peternakan terintegrasi yang berkelanjutan.

"Peternak harus memastikan ternaknya tidak masuk ke lahan tebu, sementara petani juga menjaga lahannya agar tidak terjadi gesekan di lapangan," ujarnya.

Data di lapangan menunjukkan populasi sapi di Situ Bolang saat ini mencapai sekitar 2.000 ekor. Dengan jumlah tersebut, dibutuhkan sedikitnya 100 hektare lahan penggembalaan agar aktivitas ternak dapat berjalan optimal. Keterbatasan lahan inilah yang selama ini menjadi akar persoalan.

Perwakilan peternak, Haji Tarmo, mengungkapkan bahwa para peternak berada dalam posisi sulit karena kebutuhan pakan yang besar tidak sebanding dengan ketersediaan lahan. Mereka berharap pemerintah daerah dapat menghadirkan solusi konkret melalui penataan kawasan dan dukungan infrastruktur pakan.

Di sisi lain, para petani tebu menegaskan pentingnya perlindungan terhadap lahan produktif mereka. Kerusakan tanaman tebu berdampak langsung pada hasil panen dan keberlangsungan ekonomi keluarga. Karena itu, mereka mendukung upaya penataan yang mampu menciptakan keseimbangan antara sektor peternakan dan pertanian.

Sebagai bagian dari konsep integrasi, pihak perusahaan gula melalui PG Rajawali II menyatakan tengah berkoordinasi dengan PTPN dan para pemangku kepentingan untuk menyusun skema legalitas lahan pakan sesuai ketentuan hukum. Selain itu, pemanfaatan pucuk tebu sebagai alternatif pakan ternak juga mulai didorong sebagai bentuk sinergi antara subsektor perkebunan dan peternakan.



Namun demikian, distribusi limbah pucuk tebu masih menghadapi kendala biaya transportasi yang memerlukan dukungan kebijakan dan skema pembiayaan bersama. Jika hambatan ini dapat diatasi, integrasi tebu–ternak berpotensi menjadi model percontohan pengelolaan kawasan berbasis ekonomi sirkular.

Dengan tercapainya kesepahaman sementara antara peternak dan petani, situasi di lapangan diharapkan tetap kondusif. Pemerintah daerahpun didorong segera merampungkan regulasi yang mengatur pengelolaan kawasan peternakan secara terpadu. Modernisasi peternakan Situ Bolang tidak hanya menjadi solusi atas konflik lahan, tetapi juga langkah strategis mendukung swasembada pangan dan penguatan ekonomi masyarakat di Kabupaten Indramayu. (Wira/Tim)

0 comments:

Posting Komentar

Hanya pesan membangun